Indonesia Dorong Kerja Sama ASEAN Bangun Pasar Karbon Kredibel
By Admin

Dok. Kemenhut
nusakini.com, Singapura, 22 Mei 2026 — Indonesia mendorong penguatan kolaborasi regional ASEAN dalam membangun pasar karbon yang kredibel dan berintegritas tinggi di tengah meningkatnya kebutuhan pendanaan aksi iklim global.
Dorongan tersebut disampaikan Kementerian Kehutanan Republik Indonesia dalam berbagai forum internasional selama Ecosperity Week 2026 dan GenZero Climate Summit 2026 di Singapura.
Salah satu agenda utama adalah keikutsertaan Indonesia dalam ICGD Roundtable on Building High-Integrity Carbon Markets Across ASEAN yang dipimpin ekonom sekaligus mantan Menteri Perdagangan RI, Mari Elka Pangestu.
Forum tersebut membahas perkembangan pasar karbon di negara-negara ASEAN, tantangan implementasi, hingga peluang kerja sama regional guna mempercepat pengembangan sistem perdagangan karbon yang transparan dan terpercaya.
Kementerian Kehutanan menyatakan penguatan kerja sama regional menjadi penting karena pasar karbon internasional kini semakin dipengaruhi kebijakan lintas negara, termasuk implementasi Pasal 6 Perjanjian Paris dan skema perdagangan karbon nasional.
Dalam forum Nature, Markets, Scale yang digelar UNEP dan GenZero, Indonesia juga terlibat dalam diskusi mengenai perkembangan REDD+ di pasar karbon global, baik pada pasar kepatuhan, pasar sukarela, maupun mekanisme kedaulatan.
Diskusi turut menyoroti potensi pertumbuhan pasar karbon di kawasan Asia, termasuk Jepang, Korea Selatan, dan Tiongkok yang dinilai dapat memengaruhi arah permintaan dan investasi karbon ke depan.
Penasihat Utama Menteri Kehutanan RI, Edo Mahendra, mengatakan Indonesia berharap kolaborasi internasional mampu meningkatkan aliran investasi untuk aksi iklim berkualitas tinggi.
Dalam forum yang diselenggarakan World Business Council for Sustainable Development (WBCSD), Coalition to Grow Carbon Markets (CGCM), dan Glasgow Financial Alliance for Net Zero (GFANZ), Edo menyebut peningkatan likuiditas pasar karbon internasional menjadi kebutuhan mendesak.
“Indonesia berharap CGCM dapat mencapai outcome yang konkret melalui penyaluran volume kapital yang lebih besar menuju aksi iklim yang berintegritas dan berkualitas tinggi,” ujarnya.
Selain forum multilateral, delegasi Indonesia juga menggelar pertemuan bilateral dengan Wildlife Conservation Society (WCS) untuk membahas peluang investasi jasa lingkungan di kawasan konservasi.
Kementerian Kehutanan menilai pengelolaan hutan berkelanjutan perlu dilakukan melalui kemitraan global yang tidak hanya mendukung target pengurangan emisi, tetapi juga memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat sekitar hutan.
Sebagai bagian dari penguatan kerja sama internasional, Pemerintah Indonesia menandatangani perjanjian kerja sama dengan UNEP terkait pengelolaan REDD+ berkelanjutan di sela Ecosperity Week 2026. (*)